Siapa yang menduga tumpukan sampah sisa sayur mayur dan buah-buahan
busuk yang ada di sudut-sudut pasar mampu disulap menjadi sumber energi
alternatif bioetanol pengganti Bahan Bakar Minyak (BBM) yang harganya
kian melambung tinggi.Didorong semakin melambungnya harga bahan bahan bakar minyak, Soelaiman Budi Sunarto tergerak mencari energi alternatif yang bisa menggantikan minyak. Dibantu oleh beberapa tenaga muda, di tahun 1998, Budi mencoba mengumpulkan sampah-sampah di sebuah rumah yang sengaja dibelinya di Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.
Diakui oleh Budi, sebenarnya bioetanol bukan barang baru. Namun sayang, bioetanol kurang mendapat perhatian dari masyarakat, karena kurangnya sosialisasi penggunaan bioetanol. Masyarakat Indonesia sangat bergantung dengan BBM yang berasal dari fosil yang tidak dapat diperbarui.
Menurut Budi, dibandingkan dengan negara Brazil yang sudah mulai mensosialisasikan penggunaan bahan bakar campuran etanol dengan bensin sejak tahun 1976, di Indonesia kebijakan tersebut belum dijalankan. Meskipun sudah ada aturan Presiden tentang penggunaan bahan bakar lainnya selain BBM, namun belum dijalankan sepenuhnya.




